RSS

Analisis Rasio Keuangan PT BTN tahun 2008 s/d 2009

17 Apr
Permodalan Resio modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko 14.75 12.12 -2.63
Kualitas aktiva produktif a. resio dari akyiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktifa 273 119.88 -153.12
produktif
b. Rasio penyishan penghapusan aktiva produktif yg di bentuk 86.9 89.6 2.7
terhadap penyisishan penghapusan aktifa produktif
yang wajib di bentuk
Manajemen a. Manajemen umum            0.20 0.22               0.02
b manajemen resiko 0.08 -0.08
Rentabilitas a. rasio laba terhadap rata-rata volume usaha 0.29 0.23 -0.06
b. rasio biaya terhadapa pendapatan operasional 3.74 3.47 -0.27
likuiditas a. rasio alat likuid terhadap hutang lancar dlm rupiah 1.04 1.08 0.04
b. resio kredit terhadap dana yang di terima dalam rupiah 0.97 1.13 0.16
jumalah bobot 380.97 227.73 -153.2

data tersebut berdasarkan data analisis keuangan Bank BTN yang saya ambil dari link di bawah ini

http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Laporan+Keuangan+Publikasi+Bank/Bank/Bank+Umum+Konvensional/default.htm?JkWaktu=triwulanan

Analisis rasio berdasarkan permodalan

Pada permodalan di PT BANK BTN Tbk tahun 2008 dan 2009 berdasarkan CAR (Capital Adquency Ratio) mengalami peningkatan 16.33% serta aktiva tetap terhadap modal mengalami penurunan sebesar 2.63%

Analisis rasio berdasarkan Aktiva Produktif

Analisis rasio berdasarkan aktiva produktif pada tahun 2008 s/d 2009 mengalamai peningkatan  sebesar 273 dan ini disebabkan oleh pemenuhan PPA produktif yang mengalami peningkatan signifikan.

Analisis rasio terhadap aktiva produktif yang bermasalah dan akan dihapuskan pada tahun 2008 ke 2009 terus mengalami penurunan pada aktiva yang bermasalah sebesar 86.9% dan membuat aktiva di perusahaan pada aktiva bermasalah akan menurun secara bertahap. Pada pemenuhan non produktif masih balance di tahun 2008 ke 2009 yaitu 153.24, jadi hal ini membuat kerugian keuangan pada perusahaan.

Analisis rasio berdasarkan Manajemen

Analisis rasio berdasarkan manajemen umum mengalami penurunan dari tahun 2008ke 2009 sebesar 0.20% dan membuat pemasaran pada PT Bank BTN mengalami penurunan biasanya saat pemasaran atau manajemen membuat pemasaran meningkat maka pendapatan pun akan meningkat jika menurun maka pendapatan pun akan menurun.

Pada analisis rasio berdasarkan manajemen resiko mengalami penurunan dari tahun 2008 ke 2009 sebesar 0.08% karena pada manajemen resiko terdapat hal-hal yang mungkin hanya mendapatkan resiko terhadap pendapatan maka perusahaan menurunkan dari tahun ke tahun.

Analisis rasio berdasarkan Rentabilitas

Analisis terhadap factor komponen kualitas Aset pasds Bank BTN dilakukan berdasarkan Laporan Neraca bank periode triwulan dari Maret hingga Desember pada tahun 2008-2009, beserta informasi lainnya yang terkait dengan factor komponen kualitas asset ini.

Pada aspek Rentabilitas ini rasio (criteria Kuantitif) yang digunakan adalah :

1. Return On Asset (ROA)

2. Return On Equity (ROE)

3. Net Interest Margin (NIM)

4. Beban Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Opersional (BOPO)

  • · Return On Asset (ROA)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan majemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan dari ratarata total asset bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

Pada PT BANK BTN dari tahun 2008 ke tahun 2009 tingkat ROA mengalami fluktuasi yang tidak dapat di tinjau meningkat perlahan atau menurun perlahan namun mengalami peningkatan dan penurunan saat tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 1.91 % dan dari tahun 2009 mengalami penurunan 0.23%

  • · Return On Equity (ROE)

Dalam ROE bank BTNdari tahun 2008 ke 2009 mengalami peningkatan  sebes 3.74% karena aset perusahaan yang menurun maka modal pun menurun diakibatkan pendapatan yang menurun pula

  • · Net Interest Margin (NIM)

NIM bank BTN dari tahun 2007 ke 2009 mengalami peningkatan walau tidak banyak yaitu sebesar 0.25% dan merupakan sumber utama perbankan maka ini dinilai masih kurang signifikan.

  • · Beban Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Opersional (BOPO)

Pada beban operasional yang terus meningkat dari tahun ke tahun namun pendapatan di perusahaan ini tidak mengalami peningkatan yang stabil maka dapat mengalami kerugian.

BOPO dari bank BTN adari tahun 2008 ke 2009 mengalami peningkatan sebesar 86.68%.

Analisis rasio berdasarkan Likuiditas

Analisis Rasio alat likuid terhadap hutang lancar dalam rupiah mengalami penurunan  ke tahun 2008 sebesar 1.04 % dan mengalami peningkatan  saat tahun 2009 sebesar 1.13%  dan termasuk baik dalam penerapan likuiditas yang memadai.

Terhadap dana yang diterima dalam rupiah mengalami penurunan dari tahun2008 ke 2009 sebesar 0.97%.

Kesimpulan:

Berdasarkan hasil analisis yang didapat mengenai perhitungan indikator kesehatan bank dengan menggunakan CAMELS disimpulkan bahwa Bank BTN selama periode Triwulan Tahun 2008 – 2009 mendapat peringkat 5 ( Tidak sehat ) yang mengindikasikan bahwa bank BTN adalah bank yang tergolongt tdk baik dan  tdk mampu mengatasi pengaruh negative kondisi perekonomian dan industri keuangan namun bank masih memiliki kelemahan – kelemahan minor yang dapat segera diatasi oleh tindakan rutin.

Sedangkan hasil analisis yang didapat mengenai penilaian indikator kesehatan bank dengan menggunakan CAMEL, Bank BTNselama periode Tahun 2008 – 2009 mendapat predikat tidak sehat

Dari kedua pernyataan diatas, dapat dilihat hasil akhir predikat yang didapat oleh Bank BTN selama periode tahun 2008 – 2009 sama – sama tdk  atau tergolong tdk baik. Namun didalam hasil analisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan Metode CAMELS didapat pernyataan dan analisis yang lebih tajam yaitu bahwa sekalipun Bank zbtn memiliki predikat bank tdk sehat, namun Bank BTN memiliki kelemahan di bagian Faktor Likuiditas mengenai kemampuan bank dalam mengelola cash in dan cash out guna pengelolaan likuiditas. Kelemahan Bank BTNdi faktor ini tidak terdeteksi dengan menggunakan Metode CAMEL, sehingga dengan demikian dapat terlihat bahwa Metode CAMEL memiliki kelemahan yaitu:

1. Misleading

Ukuran tingkat kesehatan bank yang dikuantifikasikan dengan menggunakan Metode CAMEL cenderung memberikan gambaran yang keliru terhadap kondisi bank yang utuh dan sebenarnya, dan dapat diperburuk lagi bila data laporan bulanan bank yang benar dan akurat tidak tersedia.

2. Historical figure

Penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan Metode CAMEL lebih menggambarkan suatu kondisi bank berdasarkan data historical pada posisi waktu tertentu dan tidak mampu menggambarkan secara jelas risiko yang mungkin dihadapi oleh bank diwaktu yang akan datang.

3. Kelengkapan Rasio Kualitatif

Rasio – rasio yang digunakan dalam penilaian faktor CAMEL belum memadai bila dibandingkan dengan rasio faktor CAMELS sehingga kurang menggambarkan kualitas dari faktor yang dinilai.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Metode CAMELS lebih valid dalam menilai tingkat kesehatan bank karena Metode ini lebih komprehensif.

Harap periksa kembali analisis rasio keuangan tersebut,

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on April 17, 2011 in analisis laporan keuangan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: